Pedogogi adalah sebuah teori pembelajaran untuk
anak-anak dimana orang tua atau pengajar memiliki peran yang penting untuk
mengambil keputusan dan bertanggung jawab
atas diri mereka. Pengalaman saya sendiri tentang pedogogi sangat pikir sangat banyak. Karena
diusia sekarang ini saya baru menggunakan androgogi. Malah kadang-kadang saya
masih menggunakan pedogodi. Pedogogi yang paling mencolok saya rasakan saat masa-masa
prasekolah, Sekolah Dasar, dan SMP. Sebelum masuk ke Sekolah Dasar saya
dimasukkan orang tua saya ke sebuah Taman Kanak-kanak dan les. Diles saya
diajarkan bagaimana cara menulis, membaca, bahkan menghitung. Saya mendapatkan
pelajaran dari guru saya. Sepenuhnya dari guru saya. Saya hanya menerima. Dan
guru saya yang memberikan semua pelajaran. Disaat itu saya hanya mengetahui
semua dan segala hal yang hanya diberikan oleh guru saya tanpa mencari tahhu
sendiri. Saya menjadi pembelajar pasif. Begitupun dirumah dengan orangtua saya.
Orang
tua saya mengajarkan saya hal-hal yang berhubungan dengan kemampuan motorik
halus seperti mengancing baju, memakai sepatu. Semua hal dari yang kecil sampai
yang besar saya diberitahu dan saya telan mentah-mentah. Disekolah dasarpun
begitu. Saya menjadi seorang pembelajar yang pasif. Sementara disekolah menengah
pertama saya merasa masih menggunkakan pembelajaran pedogogi. Wlaau ada
beberapa guru yang menerapkan sistem kerja kelompok untuk memecajkan suatu
masalah tapi ini hanya sesekali dan tetap saja meskipun telah berkelompok guru
tetap memiliki peran yang sangat besar dalam setiap kelompok yang kami
buat. Nah, kalau saat SMA saya rasa
penggunaan pedogogi dan androgogi seimbang. Karena banyak guru-guru yang
menerapkan pembeajaran siswa sebagai pembelajar yang aktif. Jadi, hampir
sebagian guru-guru disekolah saya mengandalkan kami sebagai pembelajar yang
aktif. Tapi masih tetap dalam kelompok-kelompok dan setelah sesi belajar
kelompok mana baru lah kami berganti peran.
Gurulah yang menjadi peran yanng lebih aktif.
Pedogogi adalah teori belajar yang
sangat penting. Jika tidak ada pedogogi maka tak ada pula androgogi. Androgogi
adalah teori pembelajaran yang untuk orang dewasa. Saat memasuki dunia
perkuliahan, saat seseorang berada
diantara pedagogi dan androgogi, ia sebenarnya dituntut lebih menjadi seorang
yang androgogi. Jelas saja karena usia
remaja yang beranjak menjadi seorang dewasa awal. Banyak proses yang harus
dilalui.Banyak kebiasaan-kebiasaan yang telah melekat dalam diri yang harus
dihindari. Banyak sikap yang harus diubah. Menjadi seorang yang harus
bertanggungjawab bukanlah pekejaan mudah. Disini saya dituntut menjadi
pembelajar yang sepenuhnya aktif. Walaupun ada saat-saat pedogogi kembali. Tapi
tetap saya androgogi lah yang harus
mendominasi dalam diri seorang yang dewasa. Harus belajar dari berbagai
pengalaman. Harus menjadi mandiri. Dan harus dapat mengambil keputusan dengan
benar. Jelas saja, karena setiap keputusan yang telah saya ambil haruslah dapat
saya pertanggung jawabkan. Banyak
kejadian hal-hal menarik dalam dunia perkuliahan. Bahkan ada dosen yang jika
masuk hanya akan menjawab pertanyaan mahasiswanya. Jadi jika mahasiswanya idak
ada yang bertanya maka dosen tersebut keluar dan mengakhiri kelas. Dari sini
saja kita dapat melihaht langkah-langkah apa yang harus diambil untuk menjasi
seorang yang dewasa dan mandiri. Misalnya saja sebelum masuk kelas harus
membaca buku, jadi kalau ada sesuatu yang tidak jelas bisa langsung ditanyakan
kepada dosen yang bersangkutan. Dalam hal ini seorang yang andragogi juga harus
dituntut untuk berfikir kritis.Jadi mulai sekarang, mari apresiasikan diri kita
agar kita dapat lebih mudah untuk menjadi seorang yang androgogi. Terima kasih
Tidak ada komentar:
Posting Komentar