Senin, 29 Desember 2014

Analisis Kasus Berdasarkan Teori Marvin Zuckerman

KASUS

Temukan Sensation Seeking di Gunung

KALI waktu, seorang pendaki gunung professional kaliber dunia pernah ditanyakan tentang obsesinya menjamahi puncak-puncak tertinggi dunia, ”Mengapa Anda mendaki gunung?” Pertanyaan menggelitik itu lalu dijawab dengan sangat sederhana, ”Because it is there..” (Malory).

Jawaban fenomenal itu kini melegenda dan menjadi standar referensi jawaban bagi pendaki gunung di seluruh dunia tentang hobi gila yang sering dipertanyakan orang ini. Ada kepuasan dan kebahagiaan tersembunyi yang tidak bisa terungkapkan dengan sekadar kata-kata. Apa yang kita rasakan ketika berada di ketinggian beberapa ribu meter di atas permukaan laut? Suatu ketika di mana kita bisa menatap sunset yang perlahan memancarkan warna lembayung nan memukau dengan untaian awan bergelantungan, kita seakan-akan berada di atasnya sambil menikmati secangkir kopi hangat yang ditemani belaian angin yang terasa dingin.

Tentu hati kita akan berdecak kagum bukan? Nah, pengalaman yang memberikan kedamaian batin tersebut merupakan kepingan dari kenikmatan yang bisa dirasakan oleh seorang pendaki gunung. Sebagai sebuah hobi dan wisata, tak semua orang akan dapat memahami kepuasan yang tereksploitasi lewat mendaki gunung. Untuk apa sih mendaki gunung? Apa sih yang dicari di sana? Kegiatan yang identik dengan ransel besar (carrier), topi lapangan, dan sepatu trekking yang sepintas mirip tentara di medan perang ini memang masih terasa aneh di mata masyarakat kita. Apalagi citra yang terlihat oleh masyarakat awam saat ini mendaki gunung tak lebih dari sekadar hura-hura oleh kaum hedonis.

Kegiatan tersebut bagaikan makanan franchise (waralaba) Barat yang belakangan mulai merambah selera lokal; sebut saja pizza, Mc.Donald dan lain sebagainya. Awalnya terasa asing kehadirannya, karena masih terasa ”aneh” di lidah. Namun, lambat laun, justru menjadi ikon bagi makanan ekslusif kelas rakyat yang mampu diterima masyarakat. Dan peminat lokal pun bejibun jumlahnya; itu menandakan tanggapan dan apresiasi positif bagi makanan itu untuk ”diizinkan” hadir di tengah-tengah kebutuhan mereka. Di sini pun terlihat bahwa setiap orang memiliki corak tersendiri dalam memilih upaya pengaktualisasikan dirinya. Seperti makanan ”impor” tadi, pendaki gunung pun demikian halnya.

Setiap orang butuh pencarian sensasi (sensation seeking) agar mereka terlihat aktual dan memahami diri (self estimate) akan keberartian mereka. Nah, itulah alasannya kenapa setiap warung franchise tampilannya harus elegan dan kaca ruangannya harus bening (tembus pandang), sehingga orang dari luar bisa melihat siapa konsumen yang berada di dalamnya. Dan bagi konsumen sendiri itu akan meningkatkan rasa percaya diri, lantaran mereka mendapatkan estimasi diri berupa ”kebanggaan” telah berada di ruang makan yang ekslusif dan elegan. Sebuah kata kunci untuk proses pencapaian kebahagiaan hidup yang tidak bisa diukur oleh satuan materi melainkan hanya bisa diraba melalui kepuasan batin. Hal itu pula yang dirasakan kenikmatannya oleh seorang pendaki gunung.

Digandrungi oleh Anak Muda

Mendaki gunung beberapa kurun waktu belakang memang cukup digandrungi oleh kawula muda. Meski tidak jarang juga ada orang yang usia paruh baya mencintai hobi yang satu ini (bisa jadi masa mudanya dulu memang sudah mengenal hobi ini dengan baik). Hampir setiap akhir pekan atau pada masa liburan, rute pendakian gunung ramai dijelajahi. Bahkan untuk skala dunia, beberapa negara tertentu seperti di Nepal, Swiss, Australia dan lainnya yang memiliki wisata gunung telah menjadikan objek pendakian gunung sebagai sumber pendapatan negara mereka.

Paket wisata gunung ini dikemas secara baik sehingga menarik peminat dari berbagai belahan dunia. Begitu juga halnya dengan negara kita, meski belum terkelola dengan optimal, objek pendakian gunung memang sangat menjanjikan. Di Sumatera Barat sendiri, misalnya, memiliki rute pendakian gunung yang tidak kalah menarik. Gunung Merapi, Singgalang, Talamau, dan Kerinci adalah sejumlah kecil wisata gunung yang menjadi incaran pendaki gunung. Vegetasi khas hutan tropis Sumatera menjadi daya tarik tersendiri baik bagi pendaki lokal maupun dari mancanegara.

Sensation seeking bagi seorang pendaki gunung memang sebuah harga yang tidak bisa ditawar. Mungkin itulah alasan pembenaran yang tepat ditujukan di samping alasan-alasan lain yang terlalu sulit dimengerti oleh orang yang belum pernah mendaki gunung. Namun pencarian sensasi yang dimaksud di sini bukan sekadar gagah-gagahan untuk pamer unjuk kehebatan atau keberanian pada orang lain, melainkan upaya mencari sensasi (rasa baru) yang lebih menantang dan bisa mengeluarkan ”kejutan-kejutan” dari potensi diri yang selama ini mungkin masih terpendam. Rasa inilah yang tidak bisa ditemukan di tempat lain.

Rasa Puas




Rasa ”bebas“ dan puas didapat saat menikmati tantangan-demi tantangan serta melintasi pemandangan yang menakjubkan. Dengan mendaki gunung seorang pendaki bisa berinteraksi langsung dengan alam serta mengenal karakter alam dan lingkungan sekitarnya. Selama pendakian, seorang pendaki gunung akan dihadapkan pada tantangan dan rintangan yang harus dihadapi dalam situasi yang tidak menentu. Kondisi ini persis halnya dengan menjalani kehidupan sehari-hari. Kita dihadapkan permasalahan-permasalahan yang menuntut kita harus tetap bertahan dalam kondisi terburuk sekalipun. Nah, mendaki gunung bisa diibaratkan sebagai replika kecil dari potongan perjalanan hidup. Di mana nantinya akhir dari perjuangan ini akan mengantarkan kita ke posisi puncak keberhasilan seperti yang kita impikan.

Mencapai Puncak

Mencapai puncak memang tujuan utama dari sebuah pendakian gunung. Dan momen-momen yang sangat dinantikan yang membuat semua rasa lelah dan pengorbanan semua seakan terbayar justru ketika detik-detik mencapai puncak gunung. Ketika butiran-butiran keringat yang tak terhitung lagi jumlahnya membasahi sekujur tubuh dan ketika otot-otot kaki mulai terasa lelah melangkah dan ketika nyali dan keberanian mulai dipertanyakan, di saat itulah sensasi tersebut didapatkan.

Sensasi berupa kepuasan mengatasi rintangan baik dari dalam diri dan dari lingkungan. Gejolak berupa luapan emosi yang telah berhasil mengatasi ego sendiri. Apalagi bila ketinggian gunung yang dicapai tersebut memiliki nilai achievement yang tinggi, puncak Everest misalnya, mungkin tidak hanya senyum kepuasan yang akan terlontar, bahkan tangisan rasa syukur bercampur haru pun tak akan mungkin terelakkan. Besarnya tingkat kesulitan medan yang dilalui antara gunung yang satu dengan yang lain berbeda. Untuk tipikal gunung tertentu, setiap pendakian harus disesuaikan dengan kondisi terakhir dari gunung yang akan didaki berdasarkan informasi yang didapat, baik dari penduduk setempat maupun dari pendaki sebelumnya.

Semua ini dilakukan semata demi keselamatan pendakian. Meski mendaki gunung merupakan wadah untuk menemukan sensation seeking, kegiatan ini bukanlah hanya bermodalkan nekad dan keberanian saja. Di gunung kita memang ditempa untuk tampil berani, tetapi tidak untuk mati sia-sia. Kita diajarkan berani justru untuk jujur menghadapi kehidupan itu sendiri. Dan mendaki gunung juga bukan merupakan ajang pelarian diri dari kepahitan hidup, namun justru menemukan sisi lain dari hidup yang bisa ambil hikmahnya untuk kehidupan yang lebih berkualitas.

Tidaklah mengherankan mengapa mendaki gunung bisa menimbulkan ketagihan. Kedamaiaan yang dijanjikan, keberanian yang ditawarkan, dan keakraban yang diciptakan membuat para pendaki begitu mendambakan kembali kedatangannya ke gunung. Larut dalam irama alam,mendengarkan kicauan burung yang ramah menyapa serta gemericik air yang mengalir di sela-sela bebatuan cadas semakin melengkapi kerinduan seorang pendaki bilamana rutinitas kerja telah membuatnya terpisah begitu lama dari gunung. Sebuah ”kegilaan” yang aneh memang, tapi sarat dengan pembelajaran hidup untuk menghargai hidup dan menikmati kehidupan itu sendiri.


Teori Marvin Zuckerman

“Sensation Seeking”
 
        Menurut Zuckerman, sensation seeking dideskripsikan sebagai kebutuhan untuk bervariasi/beragam, baru, kompleks/rumit, sensasi yang intens dan pengalaman serta kesukarelaan dalam mengambil resiko secara fisik, sosial, legal, dan secara financial demi sebuah pengalaman.
       Dengan menggunakan metode factor analysis,Marvin Zuckerman (1983) mengidentifikasikan empat komponen dari sensation seeking :
  1. Thrill and adventure seeking : Sebuah keinginan untuk terikat dalam aktivitas fisik yang melibatkan kecepatan, bahaya, dan hal yang menantang gravitasi seperti bungee jumping, parachuting dan scuba diving. 
  2. Experience seeking                       : Mencari pengalaman baru melalui perjalanan, lagu
  seni.
3.      Disinhibition                                 : Kebutuhan untuk mencari aktivitas sosial yang liar.
4.      Boredom susceptibility                 :Tidak melakukan  pengalaman yang berulang,
  pekerjaan  yang rutin,dan menjadi orang yang dapat
  diprediksi,dan merasa tidak puas/gelisah jika
  melakukan pengalama/pekerjaan yang bersifat  
  berulang maupun rutin.


Analisis Kasus

 

Berdasarkan kasus diatas, mereka temasuk para sensatin seeker karena mereka selalu mencari kebutuhan untuk bervariasi/beragam, baru, kompleks/rumit, sensasi yang intens dan pengalaman serta kesukarelaan dalam mengambil resiko secara fisik, sosial, legal, dan secara financial demi sebuah pengalaman.
            Mereka adalah sekumpulan anak muda yang menggunaan rasa ingin tahu dalam melakukan sensation seeking. Mereka juga selalu berusaha memenuhi rasa puas mereka dengan pengalaman – pengalaman baru.
            Menurut mereka sensasi adalah berupa kepuasan saat mengatasi rintangan baik dari dalam diri dan dari lingkungan. Gejolak berupa luapan emosi yang telah berhasil mengatasi ego sendiri. Apalagi bila ketinggian gunung yang dicapai tersebut memiliki nilai achievement yang tinggi, puncak Everest misalnya, mungkin tidak hanya senyum kepuasan yang akan terlontar, bahkan tangisan rasa syukur bercampur haru pun tak akan mungkin terelakkan. Besarnya tingkat kesulitan medan yang dilalui antara gunung yang satu dengan yang lain berbeda. Untuk tipikal gunung tertentu, setiap pendakian harus disesuaikan dengan kondisi terakhir dari gunung yang akan didaki berdasarkan informasi yang didapat, baik dari penduduk setempat maupun dari pendaki sebelumnya.
Dalam pencarian pengalaman baru dengan mendaki gunung, mereka termasuk dalam komponen sensation seeking kategori Thrill and adventure seeking            yaitu, sebuah keinginan untuk terikat dalam aktivitas fisik yang melibatkan kecepatan, bahaya, dan hal yang menantang gravitasi seperti mendaki gunung, bungee jumping, parachuting dan scuba diving.
Mereka juga termasuk dalam komponen sensation seeking kategori Experience Seeking yaitu, mencari pengalaman baru melalui perjalanan, lagu, seni. Mereka mencari pengalaman baru dengan perjalanan.
Kemudian yang terakhir mereka termasuk dalam komponen sensation seeking kategori Disinhibition yaitu, kebutuhan untuk mencari aktivitas sosial yang liar. Mereka termasuk dalam kategori ini karena dalam perjalanan mendaki gunung pastilah banyak kelompok yang akan mereka temui. Dengan berbagi pengalaman mereka dengan kelompok – kelompok yang lain mereka pasti ingin mencoba aktivitas - aktivitas yang belum pernah mereka lakukan.
Berdasarkan kasus diatas mereka tidak termasuk dalam komponen sensation seeking kategori Boredom susceptibility yaitu, tidak melakukan  pengalaman yang berulang, pekerjaan  yang rutin, dan menjadi orang yang dapat diprediksi,dan merasa tidak puas/gelisah jika melakukan pengalama/pekerjaan yang bersifat  berulang maupun rutin. Akibat dari keindahan dan rasa puas yang mereka dapatkan setelah mendaki gunung mereka menjadi ingin mengulangi pengalaman ini, sesuai dengan pernyataan mereka “ tidaklah mengherankan mengapa mendaki gunung bisa menimbulkan ketagihan. Kedamaiaan yang dijanjikan, keberanian yang ditawarkan, dan keakraban yang diciptakan membuat para pendaki begitu mendambakan kembali kedatangannya ke gunung.

Daftar Pustaka



Schultz, Duane P. 1994. Theories of Personality. California : Brooks/Cole Publishing Company