Temukan Sensation Seeking di Gunung
KALI waktu,
seorang pendaki gunung professional kaliber dunia pernah ditanyakan tentang
obsesinya menjamahi puncak-puncak tertinggi dunia, ”Mengapa Anda mendaki
gunung?” Pertanyaan menggelitik itu lalu dijawab dengan sangat sederhana, ”Because
it is there..” (Malory).
Jawaban
fenomenal itu kini melegenda dan menjadi standar referensi jawaban bagi pendaki
gunung di seluruh dunia tentang hobi gila yang sering dipertanyakan orang ini.
Ada kepuasan dan kebahagiaan tersembunyi yang tidak bisa terungkapkan dengan
sekadar kata-kata. Apa yang kita rasakan ketika berada di ketinggian beberapa
ribu meter di atas permukaan laut? Suatu ketika di mana kita bisa menatap sunset
yang perlahan memancarkan warna lembayung nan memukau dengan untaian awan
bergelantungan, kita seakan-akan berada di atasnya sambil menikmati secangkir
kopi hangat yang ditemani belaian angin yang terasa dingin.
Tentu
hati kita akan berdecak kagum bukan? Nah, pengalaman yang memberikan kedamaian
batin tersebut merupakan kepingan dari kenikmatan yang bisa dirasakan oleh
seorang pendaki gunung. Sebagai sebuah hobi dan wisata, tak semua orang akan
dapat memahami kepuasan yang tereksploitasi lewat mendaki gunung. Untuk apa sih
mendaki gunung? Apa sih yang dicari di sana? Kegiatan yang identik dengan
ransel besar (carrier), topi lapangan, dan sepatu trekking
yang sepintas mirip tentara di medan perang ini memang masih terasa aneh di
mata masyarakat kita. Apalagi citra yang terlihat oleh masyarakat awam saat ini
mendaki gunung tak lebih dari sekadar hura-hura oleh kaum hedonis.
Kegiatan
tersebut bagaikan makanan franchise (waralaba) Barat yang belakangan
mulai merambah selera lokal; sebut saja pizza, Mc.Donald dan lain sebagainya.
Awalnya terasa asing kehadirannya, karena masih terasa ”aneh” di lidah. Namun,
lambat laun, justru menjadi ikon bagi makanan ekslusif kelas rakyat yang mampu
diterima masyarakat. Dan peminat lokal pun bejibun jumlahnya; itu menandakan
tanggapan dan apresiasi positif bagi makanan itu untuk ”diizinkan” hadir di
tengah-tengah kebutuhan mereka. Di sini pun terlihat bahwa setiap orang
memiliki corak tersendiri dalam memilih upaya pengaktualisasikan dirinya.
Seperti makanan ”impor” tadi, pendaki gunung pun demikian halnya.
Setiap
orang butuh pencarian sensasi (sensation seeking) agar mereka terlihat
aktual dan memahami diri (self estimate) akan keberartian mereka. Nah,
itulah alasannya kenapa setiap warung franchise tampilannya harus
elegan dan kaca ruangannya harus bening (tembus pandang), sehingga orang dari
luar bisa melihat siapa konsumen yang berada di dalamnya. Dan bagi konsumen
sendiri itu akan meningkatkan rasa percaya diri, lantaran mereka mendapatkan
estimasi diri berupa ”kebanggaan” telah berada di ruang makan yang ekslusif dan
elegan. Sebuah kata kunci untuk proses pencapaian kebahagiaan hidup yang tidak
bisa diukur oleh satuan materi melainkan hanya bisa diraba melalui kepuasan
batin. Hal itu pula yang dirasakan kenikmatannya oleh seorang pendaki gunung.
Digandrungi
oleh Anak Muda
Mendaki
gunung beberapa kurun waktu belakang memang cukup digandrungi oleh kawula muda.
Meski tidak jarang juga ada orang yang usia paruh baya mencintai hobi yang satu
ini (bisa jadi masa mudanya dulu memang sudah mengenal hobi ini dengan baik).
Hampir setiap akhir pekan atau pada masa liburan, rute pendakian gunung ramai
dijelajahi. Bahkan untuk skala dunia, beberapa negara tertentu seperti di
Nepal, Swiss, Australia dan lainnya yang memiliki wisata gunung telah
menjadikan objek pendakian gunung sebagai sumber pendapatan negara mereka.
Paket
wisata gunung ini dikemas secara baik sehingga menarik peminat dari berbagai
belahan dunia. Begitu juga halnya dengan negara kita, meski belum terkelola
dengan optimal, objek pendakian gunung memang sangat menjanjikan. Di Sumatera
Barat sendiri, misalnya, memiliki rute pendakian gunung yang tidak kalah
menarik. Gunung Merapi, Singgalang, Talamau, dan Kerinci adalah sejumlah kecil
wisata gunung yang menjadi incaran pendaki gunung. Vegetasi khas hutan tropis
Sumatera menjadi daya tarik tersendiri baik bagi pendaki lokal maupun dari
mancanegara.
Sensation
seeking bagi seorang pendaki gunung memang sebuah harga yang tidak bisa
ditawar. Mungkin itulah alasan pembenaran yang tepat ditujukan di samping
alasan-alasan lain yang terlalu sulit dimengerti oleh orang yang belum pernah
mendaki gunung. Namun pencarian sensasi yang dimaksud di sini bukan sekadar gagah-gagahan
untuk pamer unjuk kehebatan atau keberanian pada orang lain, melainkan upaya
mencari sensasi (rasa baru) yang lebih menantang dan bisa mengeluarkan
”kejutan-kejutan” dari potensi diri yang selama ini mungkin masih terpendam.
Rasa inilah yang tidak bisa ditemukan di tempat lain.
Rasa
Puas
Rasa
”bebas“ dan puas didapat saat menikmati tantangan-demi tantangan serta
melintasi pemandangan yang menakjubkan. Dengan mendaki gunung seorang pendaki
bisa berinteraksi langsung dengan alam serta mengenal karakter alam dan
lingkungan sekitarnya. Selama pendakian, seorang pendaki gunung akan dihadapkan
pada tantangan dan rintangan yang harus dihadapi dalam situasi yang tidak
menentu. Kondisi ini persis halnya dengan menjalani kehidupan sehari-hari. Kita
dihadapkan permasalahan-permasalahan yang menuntut kita harus tetap bertahan
dalam kondisi terburuk sekalipun. Nah, mendaki gunung bisa diibaratkan sebagai
replika kecil dari potongan perjalanan hidup. Di mana nantinya akhir dari
perjuangan ini akan mengantarkan kita ke posisi puncak keberhasilan seperti
yang kita impikan.
Mencapai
Puncak
Mencapai
puncak memang tujuan utama dari sebuah pendakian gunung. Dan momen-momen yang
sangat dinantikan yang membuat semua rasa lelah dan pengorbanan semua seakan
terbayar justru ketika detik-detik mencapai puncak gunung. Ketika
butiran-butiran keringat yang tak terhitung lagi jumlahnya membasahi sekujur
tubuh dan ketika otot-otot kaki mulai terasa lelah melangkah dan ketika nyali
dan keberanian mulai dipertanyakan, di saat itulah sensasi tersebut didapatkan.
Sensasi
berupa kepuasan mengatasi rintangan baik dari dalam diri dan dari lingkungan.
Gejolak berupa luapan emosi yang telah berhasil mengatasi ego sendiri. Apalagi
bila ketinggian gunung yang dicapai tersebut memiliki nilai achievement
yang tinggi, puncak Everest misalnya, mungkin tidak hanya senyum kepuasan yang
akan terlontar, bahkan tangisan rasa syukur bercampur haru pun tak akan mungkin
terelakkan. Besarnya tingkat kesulitan medan yang dilalui antara gunung yang
satu dengan yang lain berbeda. Untuk tipikal gunung tertentu, setiap pendakian
harus disesuaikan dengan kondisi terakhir dari gunung yang akan didaki
berdasarkan informasi yang didapat, baik dari penduduk setempat maupun dari
pendaki sebelumnya.
Semua
ini dilakukan semata demi keselamatan pendakian. Meski mendaki gunung merupakan
wadah untuk menemukan sensation seeking, kegiatan ini bukanlah hanya
bermodalkan nekad dan keberanian saja. Di gunung kita memang ditempa untuk
tampil berani, tetapi tidak untuk mati sia-sia. Kita diajarkan berani justru
untuk jujur menghadapi kehidupan itu sendiri. Dan mendaki gunung juga bukan
merupakan ajang pelarian diri dari kepahitan hidup, namun justru menemukan sisi
lain dari hidup yang bisa ambil hikmahnya untuk kehidupan yang lebih
berkualitas.
Tidaklah
mengherankan mengapa mendaki gunung bisa menimbulkan ketagihan. Kedamaiaan yang
dijanjikan, keberanian yang ditawarkan, dan keakraban yang diciptakan membuat
para pendaki begitu mendambakan kembali kedatangannya ke gunung. Larut dalam
irama alam,mendengarkan kicauan burung yang ramah menyapa serta gemericik air
yang mengalir di sela-sela bebatuan cadas semakin melengkapi kerinduan seorang
pendaki bilamana rutinitas kerja telah membuatnya terpisah begitu lama dari
gunung. Sebuah ”kegilaan” yang aneh memang, tapi sarat dengan pembelajaran
hidup untuk menghargai hidup dan menikmati kehidupan itu sendiri.
Teori
Marvin Zuckerman
Menurut Zuckerman, sensation seeking dideskripsikan sebagai
kebutuhan untuk bervariasi/beragam, baru, kompleks/rumit, sensasi yang intens
dan pengalaman serta kesukarelaan dalam mengambil resiko secara fisik, sosial,
legal, dan secara financial demi sebuah pengalaman.
Dengan menggunakan metode factor analysis,Marvin Zuckerman
(1983) mengidentifikasikan empat komponen dari sensation seeking :
- Thrill and adventure seeking : Sebuah keinginan untuk terikat dalam aktivitas fisik yang melibatkan kecepatan, bahaya, dan hal yang menantang gravitasi seperti bungee jumping, parachuting dan scuba diving.
- Experience seeking : Mencari pengalaman baru melalui perjalanan, lagu
seni.
3. Disinhibition : Kebutuhan untuk mencari aktivitas
sosial yang liar.
4. Boredom susceptibility :Tidak melakukan pengalaman yang berulang,
pekerjaan yang rutin,dan
menjadi orang yang dapat
diprediksi,dan merasa tidak puas/gelisah jika
melakukan pengalama/pekerjaan yang
bersifat
berulang maupun rutin.
Analisis Kasus
Berdasarkan
kasus diatas, mereka temasuk para sensatin seeker karena mereka selalu mencari kebutuhan untuk bervariasi/beragam,
baru, kompleks/rumit, sensasi yang intens dan pengalaman serta kesukarelaan
dalam mengambil resiko secara fisik, sosial, legal, dan secara financial demi
sebuah pengalaman.
Mereka adalah sekumpulan anak muda
yang menggunaan rasa ingin tahu dalam melakukan sensation seeking. Mereka juga
selalu berusaha memenuhi rasa puas mereka dengan pengalaman – pengalaman baru.
Menurut
mereka sensasi adalah berupa
kepuasan saat mengatasi
rintangan baik dari dalam diri dan dari lingkungan. Gejolak berupa luapan emosi
yang telah berhasil mengatasi ego sendiri. Apalagi bila ketinggian gunung yang
dicapai tersebut memiliki nilai achievement yang tinggi, puncak Everest
misalnya, mungkin tidak hanya senyum kepuasan yang akan terlontar, bahkan
tangisan rasa syukur bercampur haru pun tak akan mungkin terelakkan. Besarnya
tingkat kesulitan medan yang dilalui antara gunung yang satu dengan yang lain
berbeda. Untuk tipikal gunung tertentu, setiap pendakian harus disesuaikan
dengan kondisi terakhir dari gunung yang akan didaki berdasarkan informasi yang
didapat, baik dari penduduk setempat maupun dari pendaki sebelumnya.
Dalam pencarian
pengalaman baru dengan mendaki gunung, mereka termasuk dalam komponen sensation
seeking kategori Thrill and adventure seeking yaitu, sebuah
keinginan untuk terikat dalam aktivitas fisik yang melibatkan kecepatan, bahaya, dan hal yang menantang gravitasi seperti mendaki gunung, bungee jumping, parachuting dan scuba diving.
Mereka juga
termasuk dalam komponen sensation seeking kategori Experience Seeking yaitu, mencari
pengalaman baru melalui perjalanan, lagu, seni. Mereka mencari pengalaman baru dengan
perjalanan.
Kemudian yang
terakhir mereka termasuk dalam komponen sensation seeking kategori Disinhibition yaitu,
kebutuhan untuk mencari aktivitas sosial yang liar. Mereka termasuk dalam kategori ini karena dalam
perjalanan mendaki gunung pastilah banyak kelompok yang akan mereka temui.
Dengan berbagi pengalaman mereka dengan kelompok – kelompok yang lain mereka
pasti ingin mencoba aktivitas - aktivitas yang belum pernah mereka lakukan.
Berdasarkan kasus
diatas mereka tidak termasuk dalam komponen sensation seeking kategori Boredom
susceptibility yaitu, tidak
melakukan pengalaman yang berulang, pekerjaan yang rutin, dan menjadi orang yang dapat diprediksi,dan merasa tidak puas/gelisah
jika melakukan pengalama/pekerjaan
yang bersifat berulang maupun rutin. Akibat dari keindahan dan rasa puas yang mereka
dapatkan setelah mendaki gunung mereka menjadi ingin mengulangi pengalaman ini,
sesuai dengan pernyataan mereka “ tidaklah mengherankan mengapa mendaki
gunung bisa menimbulkan ketagihan. Kedamaiaan yang dijanjikan, keberanian yang
ditawarkan, dan keakraban yang diciptakan membuat para pendaki begitu
mendambakan kembali kedatangannya ke gunung.”
Schultz, Duane P. 1994. Theories of Personality. California : Brooks/Cole Publishing
Company

